ayo mondok rmi pbnu
Jangankuatir memondokkan anak, karena janji Allah SWT pasti.
GerakanNasional Ayo Mondok yang dikampanyekan Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU), dalam hemat penulis, sudah berada di trek yang benar. Gerakan ini perlu diapresiasi dan didukung. Gerakan Ayo Mondok sesungguhnya adalah upaya mengajak anak-anak bangsa “kembali ke pesantren”.
Bandung NU Online Jabar Ketua Satuan Koordinasi (Satkor) Covid-19 Pondok Pesantren Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Ulun Nuha melalui channel YouTubenya menyampaikan pesan sekaligus renungan dalam menghadapi kesulitan di tengah pandemi, yaitu dalam satu kesulitan ada banyak kemudahan.
793. Brand Architecture . Selain identitas visual dalam bentuk logo resmi sebagaimana ulasan di atas, konstruksi branding Gerakan Ayo Mondok memiliki hubungan arsitektural dan hierarkis dengan identitas kelembagaan RMI-NU secara umum dan konstruk pola pelaksanaan program yang dijalankan di lapangan. Brand gerakan Ayo Mondok membawahi beberapa brand atau
MengenalRais Aam PBNU Periode 2021-2026. KH Miftachul Akhyar resmi menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026 dalam Muktamar ke-34 NU digelar Kamis (24/12) malam. AYO MONDOK DI BAITUL HIKMAH DEPOK. OPEN ORDER. Dawuh Abah. Nasehat Habib Puang Makka Cahaya dari Nusantara; Maulana Habib
Single Chamber Muffler Vs Dual Chamber. Jakarta, NU Online Rabithah Ma’ahid Islamiyah RMI Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang merupakan Asosisasi Pesantren NU meluncurkan logo Hari Santri 2020. Ketua Umum RMI PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin mengatakan, tahun ini pihaknya meluncurkan logo yang menggambarkan kondisi pandemi Covid-19 ditandai dengan gambar dua orang santri mengenakan masker. “Tahun ini, bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia sedang menghadapi ujian yang luar biasa. Khususnya kita kalangan pesantren dengan adanya wabah pandemi Covid-19,” kata Gus Rozin melalui keterangan tertulis, Kamis 17/9. “Sampai saat ini, pandemi semakin meluas dengan bertambahnya korban di berbagai kalangan dan kluster. Kita belum tahu pasti sampai kapan ini semua akan berakhir,” sambung Gus Rozin, sapaan akrabnya. Sehingga dalam rangka Hari Santri yang akan jatuh pada tanggal 22 Oktober 2020 ini, RMI PBNU sengaja mengambil tema "Santri Sehat Indonesia Kuat" dengan logo “Ayo Mondok Pakai Masker”, sebagai spirit untuk selalu menjaga kesehatan. “Semoga bangsa Indonesia khususnya kalangan pesantren dijauhkan dari fitnah corona, karena dengan pesantren sehat maka Indonesia akan kuat,” jelasnya. Lebih lanjut, Gus Rozin mengimbau kepada keluarga besar pesantren dan para santri di Indonesia untuk senantiasa menjaga kewaspadaan dan selalu taat protokol serta menerapkannya di lingkungan pesantren. Selain itu, semua warga pesantren harus terlibat aktif dalam menjaga pesantren dari terpapar covid-19. “Supaya visi-misi pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan pemberdayaan akan senantiasa eksis dan berkembang,” harapnya. RMI PBNU juga mengajak para santri dan seluruh elemen masyarakat untuk dapat mensosialisasikan logo Hari Santri 2020 untuk menandai peringatan yang saat ini memasuki tahun ke-6 sejak sejak ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 Oktober 2015 lalu. Sumber NU Online Editor Abdullah Alawi
Jakarta - Gelar 'Gus Lora' yang disematkan kepada Hotman Paris menuai kontroversi. Sebelumnya Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj memang memberi nama 'Gus Lora' kepada Hotman Paris. Rupanya penamaan 'Gus Hotman' juga mengundang komentar dari Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama PBNU, KH Abdul Manan Ghani. Bagi Abdul Manan, Gus yang disematkan kepada Hotman Paris tersebut adalah guyonan. Memang di kalangan orang NU sebutan Gus adalah hal yang biasa. "Biasa kiai NU itu kalau berbicara suka banyak canda-candanya, guyonan. Ketika siapa yang datang panggil aja dengan nama Gus," kata Abdul Manan di Kantor PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Selasa 10/9/2019. "Bukan sesungguhnya Gus anak kiai. Kan panggilan kehormatan, panggilan baik toh. Siapa saja bisa," tambahnya. Lanjut Abdul Manan Ghani, penyematan nama Gus juga identik orang berdarah Jawa Timur. Sementara itu, Lora sendiri adalah sebutan khas orang berdarah Madura. "Lora itu dari Madura, kalau Cirebon biasanya dipanggil Kang, jangan salah, orang dipanggil Gus biasa. Gus itu kan tradisi. Saya sering dipanggil Kang oleh orang lain," kata Abdul Manan disinggung penyematan nama Gus apakah cocok untuk Hotman, Abdul Manan menyebut Hotman dipanggil Bang yang dianggapnya sesuai nama kehormatan orang berdarah Batak. "Nggak pantas juga kalau orang Batak dipanggil Gus, pantas nggak? Pantasnya 'Bang' lah. Beliau kan marganya Hutapea, kalau Batak dipanggil Kang cocok nggak? Nggak, bukan kulturnya intinya panggilan," pungkasnya. Simak Video "Razman Merasa Dikriminalisasi di Kasus Lawan Hotman Paris" [GambasVideo 20detik] kmb/mau
Oleh Abdul Rahman WahidPondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama baca; Islam, semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam Ulama yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu itu ternyata tidak membuat pesantren aman dalam memuluskan ajarannya. Munculnya pesantren-pesantren baru yang sebenarnya berada dalam naungan aliran Islam transnasional menjadi tantangan pesantren yang sudah lama ada. Pesantren baru muncul dengan mengedapankan ilmu umum semata, pengetahuan bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi tawaran untuk menarik animo para orang tua agar memondokkan anaknya di pesantrennya. Gerakan "Ayo Mondok" yang dipelopori oleh Rabithah Ma'ahid Islamiyah RMI PBNU menjadi signal bahwa lembaga pendidikan pesantren bukan lembaga alternatif. Akan tetapi, pesantren dengan segala bentuknya merupakan lembaga unggulan. Memang, jika dilihat dari redaksi bahasa, gerakan tersebut seakan-akan hanya ajakan untuk orang tua agar memondokkan anaknya di pesantren. Ajakan tersebut diperuntukkan agar orang tua tidak memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Karena, meskipun menempuh pendidikan di pesantren bukan jaminan mereka sudah berada di tempat yang benar. Jika pesantren yang ditempati berideologi Islam garis keras, maka sejatinya mereka tidak nyantri. Akan tetapi, mereka dididik untuk menjadi para "teroris" dengan alasan "jihad". Setelah keluar sebagai alumni mereka malah mencoreng nama Islam itu sendiri. Untuk itulah, gerakan "Ayo Mondok" menjadi sebuah kampanye penting agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya untuk belajar di pesantren. Pentingnya MondokBanyak hal kenapa orang tua penting memondokkan anaknya di pesantren yang benar. Menurut pengalaman penulis sendiri, ada beberapa hal kenapa penting menempuh pendidikan di pesantren, tentunya pesantren yang berada di bawah asuhan kiai-kiai Nahdlatul Ulama NU. Di antaranya pertama, pesantren NU memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari di pesantren NU bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang dipelajari di pesantren NU. Karena itu sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang besok bertanggung jawab dihadapan Allah Yang Maha pesantren mengajarkan kita untuk tidak berpikir oposisi-binner. Sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan. Tak heran, jika gerakan feminisme menjadi kekuatan matriarki yang menindas kaum lelaki, semisal. Atau sosialisme menentang otoriterianisme, lalu menjadi otoriterianisme dengan bentuk baru. Nah, di pesantren kita diajarkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif agar bisa berjalan sejarah yang bisa kita petik adalah saat terjadi perang sesama sahabat Rasulullah. Ketika beberapa kelompok memberi dukungan kepada salah satu sahabat, bahkan ada yang memilih menyalahkan keduanya. Ulama Ahlussunnah memilih tidak berkomentar. Diamnya Ahlussunnah bukan tanpa alasan, sikap diam tanpa komentar merupakan pernyataan tersirat bahwa keduanya sama-sama mempunyai dasar alasan atas perang yang mereka kobarkan. Keduanya sama-sama sahabat Rasulullah dan perbedaan pandangan itu hal yang biasa terjadi, tak terkecuali sahabat Nabi kita dikenalkan tentang konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, barokah menjadi hal penting yang dijadikan pegangan santri. Sering kali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barokah merupakan sebuah kekuatan rasa yang dimiliki oleh Kiai dan dipercaya mampu melegitimasi ilmu yang diperoleh santri, manfaat atau tidak. Barokah tidak semata-mata bisa hadir dari seorang Kiai. Artinya, untuk mendapatkan titel bahwa seorang Kiai memiliki kekuatan barokah biasanya terletak pada sejauhmana Kiai tersebut memilki sendiri merupakan sebuah pengetahuan yang telah mengkristal pada diri seorang Kiai. Tentunya, ilmu yang pernah dipelajarinya telah menyatu dengan dirinya. Nah, Kiai seperti ini akan terlihat begitu karismatik di depan santri-santrinya dan masyarakat pada umumnya. Ternyata, hal semacam ini tidak hanya diakui oleh kalangan pesantren. Seorang tokoh sosiologi, Max Weber juga mengakui akan kebenaran ini. Dalam menjelaskan rasionalisasi, Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal. Alasannya, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Nah, yang semacam ini dalam pesantren biasa disebut dengan barokah dan karomah. Sesuatu yang selama ini kita anggap mistis, ternyata hanya persoalan rasio akal belum mampu menjangkaunya. Sebenarnya ini adalah hal yang rasional, suatu saat bisa dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosial. Tanpa disadari, dalam kehidupan santri menyimpan segudang pelajaran hidup. Hal sederhana, semisal bagaimana santri makan bersama dengan menggunakan talam. Dari situ kita bisa lihat, bahwa kebersamaan dalam pesantren itu sangat diutamakan. Tanpa melihat dari mana asalnya, miskin, kaya bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, selain persoalan di atas, hal paling penting yang bisa didapat dari pesantren adalah "Akhlak". Akhlak yang dimaksud di sini bukan sekedar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Semisal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak. Karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kebenaran tetapi, akhlak jauh melampaui itu. Seseorang yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan. Contoh yang bisa kita ambil, ketika Nabi Muhammad SAW mengutuk seseorang yang munafik. Seperti kita mafhum, munafik adalah seorang yang ucapan dan tindakan, pikiran serta hatinya tidak sesuai. Dari contoh itu bisa kita petik, bahwa akhlak meliputi persoalan pola sikap, pola ucap, pola pikir dan pola rasa hati. Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, tak lain dan tak bukan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu'itstu liutammima makarimal hanya sekelumit pengalaman dari penulis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu masih banyak hal lain yang bisa dijadikan alasan kenapa mondok nyantri itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. Untuk itu, Ayo Mondok.
Jakarta - Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta mengenang pertemuannya dengan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur saat berkunjung ke kantor PBNU. Jose Ramos-Horta bercerita momen kala dia bertemu dengan Gus Dur di Paris dalam sebuah forum internasional."Saya pertama kali bertemu Gus Dur di Paris, Prancis, beberapa tahun lalu. Saat itu kita bersama menghadiri forum internasional," ujar Jose Ramos-Horta kepada wartawan di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu 20/7/2022.Jose mengatakan sangat dekat dengan NU, terutama tentang pesan nilai-nilai demokrasi yang pernah ditanamkan Gus Dur sewaktu Timor Leste menyatakan merdeka. "Saya merasa sangat dekat dengan NU," kata Jose itu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyebut Jose Ramos-Horta dan Gus Dur memiliki hubungan dekat. Keduanya disebut sudah lama berteman."Beliau memang dekat sekali dengan Gus Dur. Sudah kenal lama. Jadi beliau teman sejak lama," jelas Gus Yahya mengatakan PBNU akan mengajak salah satu tokoh agama dari Timor Leste untuk berpartisipasi dalam forum R20 di Bali. Bak gayung bersambut, Jose Ramos-Horta pun menyambut baik ajakan Gus Yahya itu."Kita meminta ada representasi dari Timor Leste untuk ikut dalam R20. Tokoh agama dari sana dan kami ingin membuka kerja sama dengan masyarakat Timor Leste, apa pun yang bisa dilakukan untuk agenda kemanusiaan," kata Gus Yahya."Insyaallah tanggal 2 atau November nanti di Bali. Beliau menyambut baik," Jose Ramos-Horta mengunjungi kantor PBNU di Jakarta Pusat pagi ini. Setiba di lokasi, Jose Ramos-Horta tampak disambut oleh Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ramos-Horta terpantau tiba di kantor PBNU pukul WIB, Rabu 20/7/2022. Dia tampak mengenakan kemeja berwarna putih serta jas dan masker bermotif Yahya dan Gus Ipul tampak menyalami Jose Ramos-Horta. Sesudah itu, Jose Ramos-Horta masuk ke dalam kantor PBNU didampingi oleh Gus Yahya dan Gus Ipul. rak/yld
JAKARTA - Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdatul Ulama RMI-NU meluncurkan program Gerakan Nasional Ayo Mondok. Bertempat di Gedung PBNU Salemba, program Ayo Mondok diresmikan. Program tersebut awalnya merupakan moto dari Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Sirodj. “Gearakan Ayo Mondok ini merupakan ection dari moto saya waktu di Makasar. Dengan kembali ke pesantren artinya kembali pada nilai-nilai akhlaq, mempelajari ilmu agama lebih dalam,” ujar Sirodj saat ditemui Republika di Kantor PBNU, Senin 1/6. Dalam pandangannya, melalui pesatrenlah manusia akan menemukan dan mengawal pikirannya untuk berpikir secara moderat, berpikir tentang apapun, tentang semua aspek baik agama, sosial, kultur dan budaya. Melalui pesantrenlah, Sirodj percaya akan tumbuh generasi-generasi yang mampu bersaing dengan dunia tanpa goyah, akan muncul genertasi islam moderat. Menurut dia, meraih pendidikan di pesantren, bukan sekadar transfer ilmu. Pesantren merupakan proses membina generasi menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa, baik secara intelektual, sosial, maupun spiritual. “Pesantren, merupakan lembaga pendidikan yang mampu membangun generasi berkarakter,” kata Sirodj menjelaskan. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini
ayo mondok rmi pbnu